Aug 31 2010

Bacalah tak Sekedar Kata

Published by under PERPUSTAKAAN

Abstract

Reading Activity is very important for human being. More over the information century today, human being is given information almost without interval. Repeat study is needed to old pattern, including reading. Reading is not only stop on verbal words to get the meaning from information which go to and from that. Because information can appear in manner of word language and aspect language. Both of them have the way of different expression. Therefore the reading will be different. Word language has the established grammatical pattern. While the aspect language has the design imagination that work with lines, area, colour, texture and also size and dimension. Taking just one of them will destroy or weaken the totality of human being absorpsion of in formation. Therefore the most important thing is that human being require to mater both of the languages, the language of word and aspect language.

Keyword : Reading, the language

TSUNAMI INFORMASI

Membaca  merupakan  aktivitas  manusia  yang  vital.  Terlebih  pada  tingkat  kebudayaan  dan  ilmu  pengetahuan  sekarang  ini,  yang  ditandai sebagai era informasi. Denyut kehidupan kian tak bercelah, melalui perkembangan  dan  penemuan baru dibidang  teknologi yang semakin  memiliki ciri cepat, efisien dan canggih. Serbuan pesan informasi bersliweran menerpa manusia tanpa kompromi.  Dan  saat  bangun  tidur  sampai  tertidur  lagi, manusia tak luput dari informasi. Bombardiran informasi yang dikemas dalam media cetak dan media elektronik membuat hiruk – pikuk suasana kehidupan. Dengan beragam tawaran informasi yang sarat akan pesan, ide, dan manusia seakan semakin sempit ruang gerak kehidupannya, karena hampir pada setiap gerak  pandang dan pendengaran tidak lepas dari sergapan kata dan citra. Suka atau tidak,  kenyataan  ini  adalah rutinitas di setiap tempat, setiap waktu dan setiap individu.  Informasi tak pandang bulu,  menerpa siapa saja, sedang apa saja, di mana saja  bak gelombang  tsunami. Sapuan informasi memiliki  daya  kejut dan daya pukau sedemikian hingga mampu menarik dan menyita perhatian manusia untuk mencernanya,  membaca apa maknanya.

Lautan informasi,  fenomena  ini menuntut strategi penyikapan yang baru suatu yang lain dan pola – pola  baku  selama  ini. Cara – cara  konvensional yang dikenal telah menemui  titik  ausnya,  karena  dianggap  kurang  responsif lagi menghadapi hal – hal baru. Diperlukan kaji – ulang, reposisi, reformasi atau bahkan terobosan baru yang melanda segala bidang kehidupan. Dalam gelora semangat ini pula maka kiranya lahirlah beragam konsep,  seperti  EQ (Emotional Quotient) melengkapi IQ (Intellectual Quotient), berpikir lateral, accelerated learning,  double brain power, manajemen qolbu, dan lain sebagainya. Semuanya menawarkan peningkatan kemampuan manusiawi manusia untuk menghadapi fenomena kehidupan. Mencerna informasi dan bertahan hidup serta meraih kejayaan. Manusia ingin lebih cerdas dan bijaksana dalam bersikap dengan informasi yang datang menghampirinya, dalam membaca informasi.  Sebab, belum pernah sebelumnya manusia dihadapkan pada banjir informasi yang sedemikian dahsyat, massal dan mashibnya, baik dari media cetak maupun elektronik. Dari media cetak saja sebagai gambaran, dikabarkan oleh John Naisbitt dalam Megatrend 2000 yang dilansir pada tahun 1990, bahwa di sebuah Newsroom Washington DC orang bisa membeli majalah, surat – kabar, dan buku dalam 100 bahasa yang berbeda. Di sana orang bisa mendapatkan Le Monde (Perancis), Corriere della Sera (Italia), Al Ahram (Arab), Polityka (Polandia), La Nacion (Argentina), juga De Telegraaf (Belanda), selain itu China Daily,  Pravda, Die Welt, African Business, West Africa, Nigerian News dan lainnya. Belum lagi dari ranah media elektronik yang telah sampai pada kematangan teknologi digitalnya. Stasiun – stasiun radio baru yang bermunculan di setiap kota,  televisi-televisi lokal pun banyak lahir memberi alternatif bagi televisi global dan nasional.  Ditambah ragam media penyimpan digital seperti disket, CD, VCD, dan DVD serta chips-chips kartu memori yang makin kecil tapi berdaya muat besar. Lalu Internet dan telepon seluler yang berfungsi tidak hanya suara tapi sudah mengarah pada citra dan suara dengan SMS, MMS dan WAP-nya.

Sekadar kilas balik, ketika manusia masih dalam kebudayaan nomaden dengan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berburu dan bertanam berpindah-pindah. Manusia sudah mulai membuat tanda-tanda atau simbol – simbol dengan menoreh atau memahat pada pohon dan batu. Ia dicerdaskan bahwa dengan membuat tanda pahatan dan torehan itu ternyata dapat memberikan informasi kepada manusia lain. Bahkan ia sendiri bisa mengingat informasi itu kembali bila melihatnya. Maka manusia mulai memproduksi informasi pada lempeng batu, kulit kayu dan yang lebih aman di dinding-dinding gua tempat tinggalnya. Demikianlah,  manusia  mulai membuat “ensiklopedi”nya membuat “buku pintar”-nya, manusia mulai berkomunikasi dengan tanda – tanda rupa yang bisa dipakai untuk mendidik dan mewariskan pengetahuannya ke generasi berikutnya. Pengetahuan menjadi bisa bergerak melintas ruang dan waktu. Seiring dengan makin berkembangnya pengetahuan maka media penyimpan informasi pun kian beragam dan menjadi lebih baik. Dari batu, lempeng tanah liat,  perkamen, daun lontar dan kulit binatang manusia terus menemukan penyempurnaan media informasinya. Salah satu yang mendasari penemuan kertas yang kita pakai sekarang ini adalah penemuan Mesir 2500 SM  yaitu bahan tulis papyrus. Papyrus dibuat dari sejenis rumput yang tumbuh sepanjang Sungai Nil. Dari papyrus berkembang istilah paper, papier, papiere, papiros yang merujuk pada kertas. Komposisi kimiawinya yang mendasari perkembangan kertas bagi kertas modern kini. Abad 1 masehi sejenis kertas ditemukan di Cina.  Namun karena ketertutupan  budayanya,  bangsa  Eropa  baru dapat membawa teknologi kertas ini pada tahun 1150-an, maka sejak itu Eropa mengenal kertas. Penulisan buku mulai  beralih dari  yang sebelumnya  menggunakan kulit binatang seperti biri-biri, domba, sapi dsb;  kemudian kertas awal ini walau masih mengunakan teknik penulisan tangan. Penulisan dengan tangan suatu buku akan membutuhkan waktu yang lama dalam pengerjaannya dari produknya pun terbatas jumlah yang dihasilkan. Tahun 1440 prototipe awal mesin cetak Gutenberg dikenalkan yang sangat membantu dalam penggandaan naskah. Mesin cetak ini semakin disempurnakan dan diduplikasi sepanjang perjalanan sejarahnya, maka persebaran media komunikasi makin meluas dan cepat. Hingga akhirnya budaya buku menjadi penyangga peradapan manusia yang utama sampai kini, Kertas mengantarkan manusia sampai kepada era ledakan informasi kini. Sekarang, sayup – sayup  telah terdengar budaya paperiess akhir dari kejayaan  kertas, dengan munculnya media rekam digital.

Apa yang terjadi,  ketika informasi menghampiri  manusia atau sebaliknya manusia menghampiri infomasi. Diskripsi berikut mungkin bisa sekadar memberi gambaran:  ketika  anda membaca tulisan ini, retina mata Anda, yang terdiri dari 12 juta sel saraf lebih, bereaksi pada cahaya dan menyampaikan pesan pada cabang – cabang saraf  yang  menyambungkan mata dengan saraf optik. Saraf optik menyambungkan impuls-impuls saraf itu ke otak. Sepuluh sampai 14 juta sel saraf pada otak Anda, disebut neuron, dirangsang oleh impuls-impuls yang datang. Terjadilah proses persepsi yang menakjubkan. Bagian luar neuron, dendrit, adalah penerima informasi. Soma mengolah informasi dan menggabungkannya. Axon kabel miniatur yang menyampaikan informasi dari alat indera ke otak, otak ke otot, atau dan neuron yang satu kepada yang lain. Di ujung axon terdapatlah serangkaian kenop (terminal knobs) yang melanjutkan informasi itu. Psikolog menyebut proses ini  komunikasi.  Prosesnya memang tidak berbeda dengan sistem telekomunikasi dengan terminal-terminal relay dan dilengkapi dengan komputer. Otak manusia sendiri adalah komputer yang mampu menyimpan 280 quintilion (280 ditambah 18 angka nol) bit informasi. (Hunt, dalam Rakhmat, 2002:4).

Fenomena bombadiran informasi, bisa dijabarkan sebagai peristiwa komuniakasi. Saat berkomunikasi manusia menerjemahkan gagasan ke dalam bentuk lambang, baik lambang verbal ataupun non-verbal. Kemudian manusia lain mengartikan lambang-lambang tersebut sesuai makna yang telah disepakati sebelumnya, atau dengan kata lain kerangka pemikiran sebelumnya. Proses ini bisa timbal-balik. Semakin kerangka pemikiran antara manusia satu dengan yang lain sama akan besar keberhasilan komunikasi. Dalam berkomunikasi manusia membutuhkan bahasa. Dengan bahasa manusia bersepakat tentang makna yang disampirkan pada lambang-lambang bahasa. Sejak zaman batu manusia telah mulai memproduksi lambang – lambang yang disepakati untuk mengkomunikasikan atau mencatat tentang suatu hal. Lambang yang mengabstrasikan atau mewakili objek atau peristiwa. Artinya ia mewakili objek atau peristiwa dalam benak manusia.

Bahasa menandai eksistensi manusia, dan di dalam pengertian demikian dapatlah dikatakan tentang kehidupan manusia ini: “AKU BERBAHASA, KARENA AKU HIDUP” (Samsuni, 1985:5). Bahasa menunjukkan bangsa demikian bunyi ungkapan. “Sebagian besar manusia menghabiskan waktunya dengan bahasa.  Para sastrawan menemukan jati dirinya lewat bahasa, Para hakim, jaksa, pengacara, dosen, wartawan, penulis, penyiar radio – televisi, dan perancang iklan memperoleh nafkahnya dari kemahiranya berbahasa. Bahasa meluber di tempat kita bekerja, di kantor, di bengkel, di toko atau di mal-mal.” Demikian Alex Sobur dalam Semiotika Komunikasi. Antropolog pun memiliki kesimpulan, bahwa manusia dan bahasa berkembang bersama-sama. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya menjadi homo sapiens juga mempengaruhi perkembangan bahasanya. Bahasa menjadi teman setia bagi perjalanan kebudayaan manusia. Merekamnya dalam artifak-artifak dan teks-teks sejarah. Di balik itu,  bahasa  pun dipengaruhi oleh kebudayaan manusia.

BAHASA KATA DAN BAHASA RUPA

Ihwal bahasa bisa dikategorikan dalam dua kelompok besar yaitu bahasa kata dan bahasa rupa (setidaknya untuk kesepakatan kita dalam pembahasan selanjutnya). Dengan bahasa kata kita lebih mengacu pada bahasa literer, bahasa yang hidup dalam teks-teks lembaran buku dan dokumen lain. Sedang bahasa rupa merujuk pada lambang, tanda, dan simbol serta gambar peristiwa atau kisah. Kedua bahasa ini dapat mengkomunikasikan informasi yang disublimasikan ke dalam dirinya, sehingga orang yang terterpa bisa membaca apa makna yang terkandung di dalamnya dengan catatan orang harus memiliki posisi awal telah tahu cara membaca. Artinya akan ada proses komunikasi antara sang penulis dan kreator dengan orang yang membacanya.

Bahasa kata atau literer menurut sejarahnya muncul kemudian setelah manusia menyempurnakan abstrasi simbol-simbol ucap. Ia lahir setelah bahasa menemukan alphabeta-nya, ketika latin menemukan a-b-c-nya, ketika Arab menemukan alif-ba-ta’-nya, dan ketika Jawa bertemu ha-na-ca-ra, ka-nya dsb. Sejak itu bahasa kata bertahta dalam istana literatur. Dibanggakan oleh para pendeta dan bangsawan serta para pujangga karena pada mulanya tulisan masih bersifat elitis. Dan kemudian banyak dipelajari oleh banyak orang menjadikan bahasa kata makin berkembang. Bahkan menjadi suatu hal yang vital dalam percaturan kebudayaan manusia modern sebagaimana dilansir Primadi Tabrani: Di puncak kejayaan kerajaan literatur psikologi modern sempat membanggakan diri bahwa manusia modern membedakan diri dengan manusia sebelumnya. Manusia modern berfikir dalam kesadaran, dengan logika, dan dengan bahasa kata. Ada semacam keangkuhan yang ditangkap oleh Primadi Tabrani akan kebanggaan yang berlebih dari para pemakai bahasa kata dengan kekayaan literaturnya. Memang kemunculan literatur telah sempat mengeser bahasa rupa yang lahir lebih awal, ia tersisih menjadi artifak-artifak budaya, hingga pada saatnya kajian semiotika menyadarkan manusia kembali akan arti pentingnya bahasa rupa.

Dengan bahasa kata manusia menemukan kematangan intetektualitas yang bersifat nalar logis. Membawa manusia untuk berpikir runtut menurut logika yang tersistematik. Bagaimana mempelajari pengenalan rangkaian huruf yang mewakili bunyi-bunyi ujar tertentu, setelah itu merangkai huruf dalam suku-suku kata, suku kata menjadi kata, kata dirangkai dalam kalimat, kalimat menjadi paragraf, paragraf menjadi wacana. Betapa semua itu urutan yang logis dan baku. Keteraturan inilah yang menjadikannya suatu yang eksak, suatu yang pasti. Sehingga orang tidak akan pernah sampai menjadi penulis sebelum mengenal dan menguasai huruf  pada masa-masa awalnya. Dengan membaca dan menulis manusia terbiasa berpikir logis, menurut pola aturan yang telah menjadi konvensi secara umum.

Dari kelebihan inilah maka ilmu-ilmu pengetahuan menyandarkan diri pada literatur untuk mengkomunikasikan temuan-temuannya. Lewat literatur kita menerima begitu banyak kekayaan ilmu pengetahuan manusia, dari zamannya Plato sampai kurang mutakhir. Beragam laporan ilmiah, ribuan kitab undang-undang, peraturan-peraturan hukum, protokol-protokol kerjasama, deklarasi-deklarasi, jurnal-jurnal dan kabar berita sehari-hari, akta jual beli, sampai resep dokter, bahkan ijazah Anda adalah tempat di mana huruf diterakan dari kata disusun menjadi kalimat yang memberi informasi.

Dalam bahasa kata,  kita manusia, meramu kata dan kalimat untuk menjadi wacana yang mengkomunikasikan kebanyakan pemikiran dan pengetahuan kita kepada orang lain dan menerima secara timbal balik hidangan pikiran (food for thought).

Penguasaan bahasa kata merupakan prasyarat memasuki khazanah ilmu pengetahuan yang tersimpan dalam literatur-literatur di perpustakaan, Dengan bahasa kata, orang seakan memiliki paspor untuk pergi menuju tempat ilmu – ilmu pengetahuan berada di manapun. Bebas mengaksesnya tanpa hambatan, tanpa takut tidak ada mendapatkan karena halangan tidak bermakna tidak dapat membaca, sebab begitu bisa membaca pintu-pintu khazanah ilmu telah terbuka, orang tinggal berupaya melangkah memasukinya dan menikmati apa yang tersaji di dalamnya.

Maka tak heran bila angka melek huruf (literacy) menjadi salah satu indikator untuk mengukur tingkat kemajuan suatu bangsa. Dan spirit ini muncullah proyek-proyek atau program pemberantasan buta huruf dengan kejar paket-kejar paketnya, pernah pada masanya ketika orang-orang tua dan dewasa di luar usia sekolah belajar mengenal huruf (meski pun mungkin karena terpaksa), walau sudah nenek-nenek atau kakek-kakek bagi mereka ini yang memperbesar rasio angka buta huruf harus diajar belajar membaca huruf  latin, begitulah garis kebijaksanaan penguasa waktu itu. Kita harus menuju kepada kemajuan bangsa, demikian kredonya. Maka indeks angka buta huruf harus diperkecil. Sihir angka-angka.

Keterampilan baca tulis, dan berhitung adalah pengetahuan paling dasar yang pertama diajarkan di sekolah-sekolah. Anak-anak mengawali pendidikan sekolah dasarnya dengan pelajaran baca-tulis ini, dengan buku – buku yang mengenalkan huruf-huruf, dengan tulisan yang besar-besar dan masih sedikit teks. Seiring dengan itu ia harus menyalin di buku tulisnya. Keterampilan ini makin bertambah. Akhirnya ia telah menguasai kata (penulisan dan pengucapan) dan ia merangkamnya dalam kalimat,  kemudian semakin tinggi kelasnya ia akan makin banyak berhubungan dengan buku yang kaya akan teks-teks bacaan mulailah ia berinteraksi dengan beragam ilmu pengetahuan. Ketika sampai menyelesaian tingkat strata satunya ia telah bisa menuliskan karya ilmiah dalam bentuk skripsi. Tak terhitung waktu yang dihabiskan untuk berinteraksi dengan bahasa kata tulis ini, membuat terkondisikan pola pikirnya dan menjadi panduan atas nealitas sosial dan natural yang dihadapi.

Bahasa rupa, berperan lebih awal dari  pada bahasa kata. Sejak masa nomaden dan tinggal di gua-gua, tanda-tanda dan gambar di dinding-dinding gua dan lempeng batu telah menjadi alat komunikasi manusia. Tanda itu berfungsi untuk menjabarkan gagasan atau menginformasikan sesuatu di antara mereka. Seakan paralel dengan perkembangan pertumbuhan individual manusia. Seorang balita telah mulai membuat coretan-coretan dan gambar – gambar tak beraturan sesuai kehendaknya di mana saja, ketika ia mendapat alat tulis; sebelum akhirnya ia berhasil membuat huruf dan gambar bermakna. Bahasa rupalah yang lebih dulu mengabarkan informasi akan eksistensi budaya nenek moyang kita. Lewat artifak-artifak budaya, menjadi teman pertama merekam kebudayaan manusia.

Laseau mengungkapkan sepanjang sejarah, dampak penglihatan pada pikiran adalah besar sejak manusia menghuni gua, gambar merupakan ‘hablur’ peristiwa dan gagasan di luar diri manusia dan menciptakan sejarah. Berbagai hal ‘dunia kedua’ ini, yang diciptakan oleh manusia lewat khayalannya sangat menentukan evolusi pikiran. Manusia mampu membedakan masa kini dengan masa yang dibayangkannya, yaitu masa mendatang. Lewat gambar, dunia batin, dunia mitologi yang mengangan-angan dan utopia yang mengebu menjadi dekat dan nyata. Segala nilai dari  kebudayaan dapat dicakup oleh sebuah gambar – gambar yang tidak terkatakan dapat disampaikan kepada orang lain. Sejak dulu kala gambar sebagai ungkapan pikiran menjadi milik masyarakat. Setelah konsep tertuang menjadi gambar, misalnya tentang gagasan manusia dapat terbang, gagasan itu terbuka untuk ditafsirkan oleh orang lain berulang kali hingga akhirnya pesawat terbang ditemukan.

Manusia menggunakan tanda dan lambang lama sebelum menggunakan bahasa tulis. Bahasa tulis yang permulaan, misalnya hieroglif Mesir, merupakan perangkat lambang yang sangat khusus yang diturunkan dari gambar (Laseau. 1986:5).

Perkembangan geometri sebagai gabungan matematika dan diagram memungkinkan orang berpikir tentang bangunan dan pengabstrakan kenyataan. Manusia menggunakan gambar untuk menjangkau dunia yang tak dikenalnya. Peta yang disusun kembali dari catatan dan lanskap para penjelajah. Menyulut khayalan dan merangsang penemuan baru tentang dunia dan alam semesta. Bahasa rupa berperan besar dalam membuka wilayah imaji kreatif manusia.

Sayang keberadaannya agak terabaikan oleh kehadiran bahasa tulis, yang begitu kuat pengaruhnya dalam menuntun logika berpikir manusia. Untunglah kajian semiotika menyadarkan kembali akan potensi bahasa rupa dalam cara kita berpikir dan berkomunikasi. Dalam ornamen sebagai sebuah bahasa, rupa pola pikir manusia bisa diungkapkan, sebagaimana dikabarkan Guntur (2004) dalam bukunya Ornamen: Sebuah Pengantar; Ornamen digunakan masyarakat sebagai penanda dan simbol tertentu. Ornamen juga digunakan sebagai representasi yang berkaitan dengan ritual keagamaan. Ornamen berfungsi sebagai model berfikir, bertindak dan berperilaku. Ornamen di satu kajian budaya tertentu menunjukkan keserupaan dan keseragaman sebagai konsekuensi pemahaman dan kesepakatan bersama di antara anggota masyarakat.

Kini perkembangan menunjukkan makin berperannya komunikasi dengan bahasa rupa. Fenomena paling nyata adalah kehadiran televisi, tempat bertahtanya komunikasi bahasa rupa. Beragam informasi dan peristiwa, serta hiburan menjejali keberadaannya. Dengan televisi kita menjelajahi langit, samudra dan tempat-tempat di bumi. Kita bergantung pada penjelasan dan dorongan oleh gambar, berita tsunami Banda Aceh, misalnya, dan derita yang ditimbulkan telah mampu menggerakkan simpati dunia dan memberikan sumbangan bantuan. Kartun menjadi alat yang sangat canggih dalam menyuling dan mencerminkan kebudayaan kita. Revolusi yang paling besar adalah ketika bahasa rupa beralih dari lingkungan para ahli ke masyarakat luas.

Diadopsinya teknologi oleh masyarakat untuk menghimpun, menyimpan dan memanipulasi berbagai model kenyataan, seperti komputer membuka harapan yang mengagumkan. Peta satelit, permainan video, dan gambar digital yang dibangun oleh komputer dengan perlengkapannya yang makin mampat (compact) dan portable telah membuka zaman baru dalam komunikasi bahasa rupa. Lebih tegas, jika manusia hendak mewujudkan kemampuan teknologi, ia harus belajar berpikir dalam bahasa rupa. Inilah kesadaran baru yang perlu mendapat perhatian serius dalam menghadapi era informasi ini

MEMBACA

Meski bahasa kata dan bahasa rupa mempunyai pengertian yang sama, dalam arti sebagai alat komunikasi pesan, dalam kadar dan tingkatnya masing – masing. Namun karena cara pembentukannya berbeda, maka, konsekuensi yang timbul adalah cara pembacaan berlainan pula.

Untuk keperluan pembacaan ini, dari khazanah kepustakaan ilmu-ilmu pengetahuan kita dapat mengandalkan kajian linguistik dan semiotika. Kajian linguistik memiliki signifikansi yang besar untuk membantu melakukan pembacaan literatur atau teks-teks tertulis. Singkatnya memahami bahasa kata. Sedangkan semiotika akan sangat membantu untuk memahami lambang – lambang, simbol,  ikon dan tanda-tanda gambar grafis lain yang dihasilkan oleh bahasa rupa.

Tentu kita tidak harus sampai menjadi ahli linguistik, yang repot mencari jejak asal-usul kata, untuk dapat berkomunikasi dengan teks-teks literatur. Cukuplah kiranya kita berbekal pengertian tentang gramatika dan kekayaan kosa kata serta tak lupa diawal mengerti tentang huruf  dan penulisannya sesuai kondisi bahasa yang hendak dibaca. Kondisinya adalah tiap bahasa mempunyai perbedaan sedikitnya dalam ketiga hal tersebut. Kita menemukan struktur gramatikal bahasa Inggris menurut kaidah MD (Menerangkan – Diterangkan). Dalam bahasa Inggris, yang menerangkan (M) terletak didepan yang diterangkan (D), sedang dalam bahasa Indonesia berkaidah sebaliknya DM. Bahasa Inggris menuliskan: “Remaja muslim” dengan “Moslem Youth” bukannya “Youth Moslem”, sementara kita orang Indonesia menyebutkan “buku” untuk mengacu pada benda yang terbuat dari lembaran – lembaran kertas yang dijilid, orang Inggris menyebutnya “book”, Perancis “livre”, Spanyol “libro” sama dengan Italia, Jerman “buch”, Belanda “boek”, sedangkan Jepang menyebutnya “hon”. Untungnya ada huruf  latin yang bisa dikenali dan diterima banyak bahasa. Meski ada bahasa yang punya huruf sendiri pula.

Dengan mengenali huruf, pembentuk suku kata, memahami gramatikal, susunan tata bahasa dan memiliki kekayaan kosa kata dalam suatu bahasa, dijamin kita akan lancar untuk dapat berselancar membaca dalam tautan teks – teks bahasa kata. Melakukan komunikasi dengan kekayaan ilmu pengetahuan yang disimpan dalam buku-buku ilmiah atau sejarah serta sastra.

Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Dengan tanda-tanda, kita mencoba mencari keteraturan di tengah – tengah dunia yang centang-perenang, setidaknya agar kita sedikit punya pegangan. Semiotika mengajarkan kepada kita bagaimana menguraikan aturan – aturan tanda ini untuk kemudian membawanya pada sebuah kesadaran kita. Semiotika menjelaskan jalinan tanda secara sistematik; menjelaskan esensi, ciri-ciri dan bentuk suatu tanda, serta proses signifikasi yang menyertainya.

Alex Sobur mengelompokkan kajian semiotika dalam tiga poros. Poros horizontal menyajikan tiga jenis penyelidikan semiotika (murni, deskriptif dan terapan); poros vertikal menyajikan tiga tahapan hubungan semiotik (sintaktik, semantik, pragmatik) dan poros yang menyajikan tiga kategori sarana informasi (signals, signs dan symbols) (Alex Sobur, 2003: 19).

Simbol, lambang, kode, ikon, logo, tanda, dan sebagainya, merupakan produk imaji rupa atau singkatnya bahasa rupa, sangat mungkin untuk dibacakan informasi maknanya dengan perspektif semiotika, karena simbol atau lambang adalah semacam tanda, lukisan, perkataan, lencana dan sebagainya yang menyatakan suatu hal atau mengandung maksud tertentu. Misal, warna putih merupakan lambang kesucian, padi lambang kemakmuran. Simbol melibatkan tiga unsur: simbol itu, rujukan, dan hubungan antara simbol dengan rujukan. Ketiga hal ini yang  membangun makna sebuah simbol.

Dalam pandangan semiotika, ragam bahasa rupa ini semua bisa “berbicara” mengomunikasikan diri kepada kita dan kita bisa membacanya. Maka dalam membaca ketiga unsur itu perlu diperhatikan. Kalau khazanah bahasa kata, ibarat kita akan pergi ke suatu tempat, terlebih dahulu kita diajak menelusuri, menapaki setiap ruas jalan ke tempat tujuan, maka dalam bahasa rupa kita langsung sampai di tempat itu. Orang menyebutnya instant, bahasa instant, kita langsung berhadapan dengan ekspresi pesan. Kita membongkar bangunan tanda atau simbol itu ke dalam unsur pembentuknya.

Primadi Tabrani, dalam penelitiannya tentang relief candi Borobudur dan Wayang Beber, telah berhasil membaca rujukan filosofi yang melingkupi. Relief dan wayang lahir dari filosofi timur, sedang gambar-gambar yang menjadi mainstrem sekarang adalah bersandar filosofi barat. Dari sini Primadi rnemunculkan konsep RWD (Ruang-Waktu-Datar) dan NPM (Naturalis Perspektif Moment Opname). Dalam konsep RWD yang dipakai untuk membaca relief candi Borobudur dan bahasa rupa timur lainnya, unsur waktu dibiarkan sesuai esensinya yaitu mengalir atau bergerak, dengan ini ia bisa menggambar dalam aneka tempat, arah dan waktu, berupa sekuen (sequence, beberapa adegan) bukan still picture seperti dalam NPM, di mana gambar bercerita untuk satu adegan dalam satu tempat dan satu waktu. Selain itu pembacaan juga harus memperhatikan wimba (citra) yaitu gambar apa yang dicitrakan, cara wimba yaitu bagaimana citra ini digambar. Bila detail berarti diam bila samar putus – putus artinya bergerak. Gestur bisa digambarkan; dan tata ungkap (atau grammernya), kalau citra digambar paling besar dari obyek lain dapat dimaknai ia adalah fokusnya.

Di samping itu ada istilah pradaksina yaitu cara pambacaan dari kiri ke kanan atau bisa dari bawah ke atas, untuk menggambar hal-hal yang dianggap profan. Sebaliknya sistem prasawya untuk  menggambar yang bersifat keduniawian.

Dengan konsepsi-konsepsi di atas, cara pembacaan bahasa rupa Barat yang bersifat “moment opname”, yaitu membatasi adegan dalam satu ruang dan satu waktu tertentu, akan gagal bila dipakai untuk membaca gambar dalam Damar kurung, wayang beber, lukisan kaca, relief candi atau lukisan Kamasan. Tentu akan ada kebingungan dan bila dipaksakan juga akan menimbulkan salah tafsir makna (Soemardjo, 2002 : 287). Hal ini juga menunjukan bahwa bahasa rupa tidak seuniversal yang kita banyangkan. Ia juga dipengaruhi oleh filosofi di mana bahasa itu dilahirkan.

SINERGI

Tiada sesuatupu yang sempurna di dunia ini. Begitupun kedua bahasa yang disebutkan di atas. Kata tak dapat mengungkapkan kehakikian fisik dari realitas totalnya. Kata pun tak mampu mengungkapkan suatu parameter khusus (essential quality) yang mengandung kebenaran, nyata atau hakiki. Tak ada yang setara dunia nyata. Tuhan memberi peringatan kepada kita, andai seluruh pohon di bumi dan air di laut jadi tintanya takkan sanggup menuliskan rahasia semesta sampai pun air laut  kering dan pohon-pohon habis. Demikianpun tulisan hanyalah alat pencatat yang tidak sempurna belaka. Ketidaksempurnaan tulisan itu ialah karena tidak semua aspek bahasa dapat dinyatakan dengan tulisan biarpun ada tanda-tanda bacaan, umpamanya tanda tanya, tanda seru, dan kombinasi dari pada keduanya, yang bisa menggantikan beberapa aspek-aspek itu. Tekanan, nada dari lagu kalimat sering tidak dinyatakan di dalam kalimat (Samsuri, 1986 : 20).

Bahasa rupa memiliki derajat distorsi yang kecil, dalam upayanya mengkomunikasikan sesuatu. Kita akan menemukan kebingungan yang lebih besar ketika diberi penjelasan verbal untuk menemukan alamat di suatu kota, bila dibandingkan dengan penjelasan sebuah peta. Untuk itu, orang membuat katalog warna dengan guntingan kertas warna yang sesuai untuk memandu menjelaskan warna yang dimaksud, katalog produk dilengkapi potret barang yang ditawarkan. Kini program bahasa komputer Basic telah dibuat dalam Visual Basic (VB) yang lebih memudahkan dalam membuat suatu program aplikasi komputer. Anda akan lebih enak menulis dengan MS Words yang WYSWYG (What You See is What You Get) dibandingkan Wordstar yang harus main kontrol KB mengapit suatu kata untuk membuatnya cetak tebal.

Tentu tidak relevan, mempertentangkan keduanya; kata dan rupa. Pertentangan hanya akan membawa semangat meniadakan. Sebab perbedaan hanya penting untuk pengkategorian, mengklasifikasi dan mengenal ciri-ciri sesuatu. Setelah mengenal cirinya kita dapat melakukan perlakuan yang sesuai dengannya. Bahasa rupa dan kata memiliki ciri khasnya masing-masing. Memanfaatkan potensi keduanya adalah sikap yang bijak untuk membangun totalitas komunikasi yang efektif.

Bahasa kata yang verbal lebih merangsang pengaktifan sensori otak kiri yang logis, nalar, rasional. Sementara belahan otak kanan yang intuitif, imajinatif dan kreatif olah rasa akan mudah distimuli oleh bahasa rupa. Namun, bukankah kita hidup dengan keduanya ya otak kiri dan kanan, karena otak kita adalah keseluruhannya. Totalitas otak kita tentu tak akan rela bila hanya mengeksplorasi sebagian saja, sementara yang sebagian lagi tak tergarap akan menjadi potensi yang tidur. Membuat sinergi keduanya adalah hikmahnya.

Sebagaimana disarankan Dave Meler dengan metode pendekatan SAVI (Somatis, Auditori, Visual, dan Intelektual) dalam belajar untuk memungkinkan perolehan hasil yang maksimal, yaitu gabungan dari olah fisik dan aktivitas intelektual ditambah pengaktifan semua indera kita dalam memahami sesuatu. Dengan begitu, potensi otak kita yang 100 milyar bit informasi setara dengan 500 ensiklopedi. Dalam berpikir otak mempunyai kecepatan lebih dari 540 km per jam. Koneksitas sambungan lebih dari 100 triliun dan rata-rata mampu melakukan 4000 pemikiran setiap 24 jam (Scott, 2002:xix), akan memiliki daya dukung maksimal atas berbagai aktivitas kita sehari-hari. Untuk itu, perpustakaan mendiversifikasi sumber informasi. Melengkapi diri dengan koleksi non-book material, yang dihimpun dalam rumpun koleksi audio-visual. Maka apakah anda akan berhenti pada kata?

Daftar Pustaka

Anderson, Wallace L & Stageberg, Norman C.

1965.     Introductory Readings on Language. New York: Holt, Rinehart and Winston.

Sutistyo Basuki,

1993.     Pengantar  Ilmu Perpustakaan.  Jakarta:  Garamedia Pustaka           Utama.

Guntur

2004.     Ornamen Sebuah Pengantar. Surakarta:  STSI  Press Surakarta.

Laseau. Paul.

1986.     Berpikir Gambar Bagi Arsitek dan Perancang. Bandung: Penerbit ITS.

Dave Meier,

2002.     The  Accelerated  Learning  Handbook:  panduan kreatif dan efektif merencang program pendididikan dan pelatihan. Bandung: Kaifa.

Naisbitt, John & Aburdene, Patricia.

1990      Me gatrends 2000:  sepuluh arah baru untuk tahun 1990-an. Jakarta:  Sinarupa Aksara.

JalaLuddin Rakmat,

2002      Psikologi  Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Samsuri

1985    Analisis Bahasa.  Jakarta:  Erlangga.

Alex  Sobur,

2003    Semiotika  Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Jean Marie Stine,

2002      Double Your Brain Power: meningkatkan daya ingat anda dengan menggunakan seluruh otak anda. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Jakob Sumardjo,

2002      Arkeologi Budaya Indonesia: pelacakan hermeneutis-historis terhadap artefak – artefak  kebudayaan  Indonesia. Yogyakarta: Qalam.

Primadi Tabrani,

2004      Bahasarupa:  kumpulan  tulisan koleksi Soengeng Tokio M. Surakarta:  STSI  Surakarta.

Scoot Thorpe,

2002.     Berpikir Cara  Einstein (cara-cara sederhanan untuk melonggar aturan serta menemukan kejeniusan anda yang tersembunyi). Batam Centre: Interaksara.

Soegeng Toekio M,

1997      Gatrarupa:  karya ilmiah. Surakarta: STSI Surakarta.

Soegeng Toekio M,

1997      Pengantar Semiotika dan keindahan. Surakarta : STSI Surakarta.

Soegeng Toekio M,

2003      Bahasarupa dalam Anggitan Pariwara. Surakarta: Artha-28.

Wucius Wong,

1986      Beberapa Azas Merancang  Dwimatra. Bandung: Penerbit ITB.

3 responses so far

Aug 26 2010

Kepustakaan Presiden RI

Published by under INFORMASI

Apakah Anda ingin mengali informasi tentang: Fakta dan peristiwa yang berkaitan dengan para Presiden RI dan masa pemerintahannya terekam dalam berbagai bentuk bahan pustaka, baik tercetak maupun rekam. Dari masa Presiden Soekarno sampai Presiden yang sekarang.

Maka situs berikut ini layak untuk dikunjungi:

Situs Web Kepustakaan Presiden-Presiden Republik Indonesia ini dibangun, dikelola, dan dikembangkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, khususnya Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi.

Comments Off on Kepustakaan Presiden RI

Aug 25 2010

Sisi Lain dari Seminar TI untuk Perpustakaan Era Milenium

Published by under PERPUSTAKAAN

Seminar Sehari “Teknologi Informasi Untuk Perpustakaan Era Milenium III”, yang diselenggarakan pada hari Rabu 4 Agustus 2010 oleh UPT. Perpustakaan Institut Seni Indonesia Surakarta di Gedung Teater Besar, diperkaya dengan adanya kuisioner. Kuisioner ini berupaya menjaring tanggapan peserta seminar. Bertujuan untuk mengetahui mutu pelaksanaan seminar tersebut.

Langkah ini ternyata mendapatkan respon yang sangat positif dari para peserta seminar. Terbukti dengan jumlah lembar kuesionar yang terkumpul sebanyak 97% dan semua terisi jawaban. Partisipasi para peserta terhadap upaya menjaring umpan balik ini sangat mengembiraka.

Saat hari H pelaksanaan seminar, panitian menyertakan  kuisioner kepada para peserta seminar. Lembar kuisioner ini dimasukan ke dalam  Seminar Kit yang diberikan kepada para peserta dengan langkah ini dipastikan semua peserta mendapatkan lembar kuisioner tersebut. Pada akhir acara peserta seminar dihimbau untuk mengumpulkan lembar kuisioner yang telah mereka isi ke dalam boks yang telah disiapkan panitia.

Ada 10 pertanyaan yang diajukan kepada peserta. Berikut adalah pertanyaan dan hasil dari respon peserta:

Tabel 1.

Tabel 2

Tabel 3

Tabel 4

Tabel 5

Tabel 6

Tabel 7

Tabel 8

Tabel 9

Tabel 10

Secara umum boleh dikatakan bahwa seminar ini sangat berhasil. Hal ini bisa dilihat dari jawab kuisioner ke sepuluh yang mempertanyakan: “Secara umum saya puas dengan pelaksanaan seminar ini?”. Terbukti sebanyak 76% peserta menjawab Setuju dan 6% menjawab Sangat Setuju. Sementara yang menjawab Tidak Setuju hanya 3% dan tidak ada yang menjawab Sangat Tidak Setuju. Sedang 15% lainnya bersikap Netral.

Comments Off on Sisi Lain dari Seminar TI untuk Perpustakaan Era Milenium

Aug 20 2010

Log in e-Journal

Published by under INFORMASI

Informasi. Untuk memperkaya referensi ilmiah di lingkungan perguruan tinggi, Dikti melanggan 3 e-Journal Internasional. Yaitu PROQUEST, GALE, dan EBSCO. Ketiga e-journal ini dapat dimanfaatkan oleh sivitas akademika perguruan tinggi seluruh Indonesia, melalui perguruan tinggi masing-masing

Gambar 1 : Laman Log in dari  PROQUEST (http://proquest.umi.com/pqdweb)Isinkan User Name dan Password kemudian klik tab Sambungkan.

Gambar 2: Setelah itu akan tampil laman pencarian dasar, artinya anda sudah berhasil log in

Gambar 3: Laman Log in dari  GALE(http://infotrac.galegroup.com/itweb/)Isinkan User Name dan Password kemudian klik tab Authenticate

Gambar 4: Setelah itu akan tampil laman pencarian, artinya anda sudah berhasil log in
Gambar 5 : Laman Log in dari  EBSCO (http://search.ebscohost.com/)Isinkan User Id dan Password kemudian klik tab Login
Gambar 6: Setelah itu akan tampil laman pemilihan data base, artinya anda sudah berhasil log in

Informasi Penting:Untuk mendapatkan user name dan password
Anda dapat menghubungi ke perpustakaan di perguruan tinggi atau universitas Anda masing-masing

Comments Off on Log in e-Journal

Aug 19 2010

Seminar Perpustakaan

Published by under DINAMIKA

Teknologi Informasi Untuk Perpustakaan Era Milenium III

One response so far

Aug 19 2010

MENYOAL TENTANG JABATAN FUNGSIONAL PUSTAKAWAN

Published by under PERPUSTAKAAN

Mamarasi adalah pustakawan pertama bekerja di perpustakaan jurusan sebuah institut pendidikan. Beliau melaksanakan pekerjaan mulai dari pengolahan bahan pustaka sampai melayani pemustaka. Untuk mengolah bahan pustaka mulai dari menganalisis subyek sampai memberi kelengkapan buku. Sedang pelayanan kepada pemustaka beliau harus melayani permintaan rujukan cepat sampai sirkulasi peminjaman bahan pustaka. Disamping itu beliau juga melakukan selving memelihara jajaran bahan pustaka di rak buku.      Lain lagi Paparasi. Beliau nasibnya persis sama dengan Mamarasi namun Paparasi seorang pustakawan pelaksana lanjutan. Paparasi harus melakukan kegiatan dari melakukan analisis subjek sampai mengatur penempatan bahan pustaka di rak. Beliau juga melaksanakan pelayanan sirkulasi kepada pemustaka.     Perpustakaan yang dikelola oleh kedua pustakawan tersebut kondisinya juga tak jauh berbeda ramai pada saat-saat tertentu saja menjelang ujian semesteran. Jumlah koleksi berkisar pada dua ribuan judul buku.      Baik Mamarasi dan Paparasi ini untuk mudahnya bagi pembahasan selanjutnya kita sebut saja sebagai fenomena pustakawan ”single parent”. Yaitu peustakawan yang bekerja seorang diri mengelola suatu unit perpustakaan pada sebuah lembaga tertentu. Mereka ini dituntut untuk mengerjakan aktivitas profesi kepustakawanan mulai dari pengembangan koleksi, penglolahan bahan pustaka, pelestarian bahan pustaka sampai dengan melakukan pelayanan kepada pemustaka.  Keadaan ini tentu menjadi permasalahan tersendiri ketika pustakawan ”single parent” ini hendak menyusun Daftar Usulan Penetapan Angka Kredit (DUPAK) untuk memenuhi persyaratan administrasi jabatan fungsional pustakawan. Sebagaimana tertuang dalam Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Teknik Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya, disana terdapat pembagian butir kegiatan yang diperuntukkan bagi jenjang pustakawan tertentu. Sehingga apa yang dilakukan oleh Mamarasi maupun Paparasi sebagai pelaksanaan kegiatan profesinya tidak dapat sepenuhnya dimasukan sebagai prestasi kerja harian yang berpotensi mendapatkan nilai kredit point. Untuk Mamarasi misalnya bila beliau melayani peminjaman sirkulasi koleksi bahan pustaka maka butir kegiatan ini tidak akan mendapat nilai kredit point, sebab butir kegiatan ini diperuntukan bagi jabatan seperti Paparasi. Sebaliknya Paparasi kalau mengerjakan butir kegiatan mengklasifikasi buku maka beliau tidak bisa mencatatnya sebagai prestasi kerja harian, karena butir kegiatan ini merupakan butir kegiatan untuk pustakawan seperti Mamarasi. Singkatnya butir kegiatan bagi jabatan fungsional pustakawan telah dideterminasi sesuai dengan jenjang jabatannya. Sepertinya fungsi kepustakawanan dalam peraturan tersebut distrukturkan dalam jenjang-jenjang siapa harus mengerjakan apa. Melihat fungsi kepustakawan bisa dibagi-bagi, sepotong kegiatan untuk pustakawan ini, sepotong lagi untuk pustakawan lainnya. Tampaknya fungsi profesi kepustakawanan harus dikerjakan secara berkelompok besar, team yang lengkap terdiri dari semua jenjang jabatan. Tidak dapat difungsikan secara mandiri oleh pustakawan ”single parent”.Permasalahannya adalah haruskah para pustakawan ”single parent” dibatasi kegiatannya? Atau beliau harus menjadi relawan yang tidak menaruh pusing tentang urusan administrasi jabatan yang penting baginya adalah lembaga perpustakaanya dapat sepenuhnya menjalankan misi pelayanan kepada pemustaka. Pertanyaan yang kemudian mengejar adalah berapa orang yang bersedia menjadi relawan? Permasalahan ini perlu dikritisi sebab selama ini Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Teknik Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya telah menjadi acuan atau instrumen yang dipergunakan untuk membuat DUPAK bagi pustakawan diberbagai institusi perpustakaan tidak hanya di lingkup Perpustakaan Nasional semata. Yang kondisi kelembagaannya tidak terstruktur seperti Perpustakaan Nasional.Kembali kepada potret Mamarasi dan Paparasi tadi, pustakawan ”single parent” dapat ditambah dengan potret-potret Mamarasi dan Paparasi lain di berbagai unit perpustakaan di seluruh Indonesia. Di perpustakaan sekolah-perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi, Terlebih lagi setelah terbitnya Undang-Undang Perpustakaan Nasional (UUPN) No. 43 Tahun 2007. Yang memberi angin segar bagi terbentukanya perpustakaan di lembaga pendidikan yang dikelola secara lebih profesional oleh para pustakawan. Akan ada banyak pustakawan yang bekerja di perpustakaan-perpustakaan ini. Mereka akan menghadapi kondisi kerja yang tak jauh berbeda dari gambaran fenomena di atas. Bekerja seorang diri di perpustakaan yang ia kelola dan otomatis semua pekerjaan pustakawan akan dikerjakan. Mulai dari pengembangan koleksi, pengolahan koleksi, pelayanan perpustakaan, dan pelestarian bahan pustaka. Kegairahan dunia perpustakaan selepas terbitnya UUPN, ini tentunya menjadi kabar baik bagi perkembangan perpustakan ke depan. Baik dari segi ilmu perpustakaan maupun perkembangan perpustakaan itu sendiri.   Dengan adanya unit-unit perpustakaan di berbagai lembaga pendidikan akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan. Tersedia tempat yang memadai bagi para peserta didik untuk mendapatkan akses terhadap sumber-sumber informasi dan sumber-sumber belajar. Hal ini sesuai dengan definisi unit perpustakaan dalam UUPN tersebut: ”(Unit perpustakaan, dokumentasi dan informasi adalah unit kerja yang memiliki sumber daya manusia sekurang-kurangnya seorang pustakawan, ruangan/tempat khusus dan koleksi bahan pustaka sekurang-kurangnya 1.000 judul dari berbagai disiplin ilmu yang sesuai dengan jenis dan misi perpustakaan yang bersangkutan serta dikelola menurut sistem tertentu untuk kepentingan masyarakat penggunanya.) Perpustakaan Nasional RI, 2004 :4 ) Disamping itu UUPN tersebut juga mewajibkan penyelenggara pendidikan untuk membentuk pelayanan perpustakaan dilingkup kerjanya. Sebagaimana tertuang dalam pasal Pasal 28(1)    Setiap satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat berkewajiban menyelenggarakan perpustakaan sekolah/madrasah.(2)    Pemerintah dan/atau pemerintah daerah, serta pemimpin satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah berkewajiban mengalokasikan dana paling sedikit 5% (lima persen) dari anggaran sekolah untuk penyelenggaraan perpustakaan.
Akan banyak tenaga pustakawan yang diperlukan untuk mengelola perpustakaan di berbagai lembaga pendidikan tersebut. Peluang ini dengan cermat telah dibaca oleh kalangan masyarakat. Sehingga kalau kita menengok penyelenggaran pendidikan ilmu perpustakaan kini banyak diminati oleh masyarakat peserta didik. Ambil contoh misalnya Pendidikan D2 Ilmu perpustakaan UT di UPBJJ Surakarta, kini diserbu peminat. D3 ilmu perpustakaan UNS yang tahun ini jumlah pendaftarnya jauh melebihi kuota. Mereka beberapa tahun lagi akan menyelesaikan pendidikannya dan selanjutnya akan bekerja mengelola perpustakaan-perpustakaan di berbagai lembaga. Apabila peraturan tentang pembinaan karier kepustakawanan tidak responsif terhadap kondisi kerja mereka tentu akan berdampak kurang baik terhadap kinerja mereka nantinya. Lantas menjadi bumerang bagi kemajuan dunia perpustakaan nasional.

Fungsional vs Struktural
Kalimat ini tidak bermaksud untuk mempertarungkan keduanya. Namun hanya untuk menelisik latar belakang filosofi kedua pengertian tersebut untuk memaknai tentang jabatan fungsional pustakawan.        Dalam klasifikasi pekerjaan, pustakawan adalah termasuk dalam jenis jabatan fungsional yang diberi tunjangan secara fungsional. Fungsionalisme suatu teori yang merujuk pada sejumlah persyaratan funsional di dalam menjelaskan beragam aspek keterpaduan (integrasi) masyarakat sebagai sistem sosial budaya yang mampu bertahan. Persyaratan fungsional itu mencakup misalnya, upaya mencari nafkah, termasuk upaya mencukupi keperluan pangan (kebutuhan fisik), lembaga untuk membentuk satuan keluarga baru, lembaga untuk mendidik anak, lembaga kebaktian dalam beragama dan sebagainya. (Ensiklopedi Nasional Indonesia Jil. 5, 1989: 417)            Sementara Strukturalisme cenderung berusaha menolak beberapa gagasan fenomenologi dan eksistensialisme. Jika eksistensialisme bertitik tolak dari keunggulan kesadaran manusia sebagai pribadi dan menekankan kebebasan manusia, para strukturalis memungkirinya dan lebih menekankan adanya suatu determinisme (pembatasan). (Ensiklopedi Nasional Indonesia Jil. 15, 1990: 265)Ada dua kata kunci yang dapat diambil dari kedua pengertian tersebut yaitu keterpaduan dan pembatasan. Keterpaduan atau integrasi merupakan ruh dari pengertian fungsionalisme, sedang pembatasan atau determinasi adalah sifat dari strukturalisme.             Merujuk dari pengertian tersebut di atas, memandang jabatan fungsional pustakawan hendaknya adalah secara utuh dan terpadu. Dalam diri seorang pustakawan melekat serta terintegrasi tugas dan fungsi kepustakawanan. Ia harus diberi ruang sepenuhnya untuk menjalankan fungsi kepustakawanannya tersebut dimanapun ia ditugaskan. Sehingga dimanapun  pustakawan berada dapat melakukan kegiatan mulai dari melakukan pengembangan koleksi, pengolahan bahan pustaka, pelayanan kepada pemakai dan kegiatan kepustakawanan lainnya. Kemudian dari pelaksanaan kegiatan tersebut ia berhak untuk mendapat pengakuan berupa nilai kredit point, untuk kepentingan administrasi pembinaan kariernya. Artinya ia tidak semestinya dibatasi peranya dalam struktur tingkatan jabatan. Bila ini terjadi maka pustakawan tentu tidak dapat berkiprah secara maksimal menjalankan fungsinya. Sebab bila ada pembatasan seorang pustakawan pertama butir kegiatan yang harus dikerjakan sudah ditentukan, kemudian pustakawan muda, pustakawan madya, dst serta ada lagi pustakawan terampil, pustakawan pelaksana, pustakawan pelaksana lanjutan, dst. yang terjadi dalam praktek adalah determinisme (pembatasan) yang terstruktur atas jabatan pustakawan. Jadi apa yang disebut dengan jabatan fungsional kalau prakteknya instrument penilaian prestasi kerjanya adalah terstruktural demikian seperti dalam DUPAK. Keutuhan fungsi kepustakawanan tampaknya tidak tercermin dalam Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Teknik Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya. Sehingga apabila menemukan praktik-praktik kepustakawanan di lapangan seperti fenomena pustakawan ”single parent” peraturan tersebut tidak dapat memberikan solusi yang melegakan.             Okelah apa yang ada dalam peraturan tersebut telah memetakan butir-butir kegiatan pustakawan yang sangat rinci namun alangkah sebaik bila  butir-butir tersebut tidak perlu diberi determinan tentang siapa yang melaksanakan. Yang melaksanakan ya semestinya adalah pustakawan an sich. Karena pustakawan dianggap jabatan fungsional, secara fungsional maka perlu memandang dengan utuh. Seorang pustakawan wajib menjalankan fungsi profesi kepustakawan tanpa diberi batasan struktur jabatannya. Adanya jenjang jabatan harus dipandang sebagai penilaian akumulasi prestasi yang dihasilkan dari pelaksanaan kegiatan kepustakawanannya. Seperti seorang yang menempuh suatu rute perjalanan jenjang penyebutan jabatan (pustakawan pertama, pustakawan muda, pustakawan madya dsb) perlu dimaknai sebagai etape-etape yang dilalui oleh seorang pustakawan tanpa dijadikan sebagai determinan untuk melakukan suatu kegiatan kepustakawanan. Jelasnya butir-butir kegiatan kepustakawanan yang dijabarkan dalam Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Teknik Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya adalah ibarat langkah kaki sedang jenjang jabatan adalah ibarat etape-etape. Tidak elok bila langkah kaki dibatasi harus begini tak boleh begitu. Karena langkah kaki adalah cermin dari praktek kepustakawanan secara utuh dan intrinsik melekat dalam diri pustakawan. Seorang pustakawan dari bekal pendidikan yang telah menjadi prasyarat utama dalam pengangkatan pertama kali menjadi pustakawan tentu dipandang memadai dan cakap untuk melakukan seluruh butir-butir kegiatan yang tertuang didalam peraturan tersebut.

Elaborasi dan Solusi
Implikasi dari Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Teknik Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya; adalah ketidak-responsifan DUPAK untuk menjadi instrument penilaian bagi kinerja pustakawan. Harus ada pergantian dari satu jenjang jabatan ke jabatan lain yang lebih tinggi.Kalau dipaksakan juga untuk mengacu pada peraturan tersebut; maka sangat membatasi kiprah pustakawan dalam menjalankan fungsi profesinya. Sebagaimana diketahui DUPAK adalah daftar yang memuat prestasi kerja yang dicapai oleh pustakawan dan telah diperhitungkan angka kreditnya dalam kurun waktu tertentu. Karena ada sementara pekerjaan yang memang dikerjakan tetapi tidak bisa masuk dalam butir kegiatan sebagaimana seharusnya. Contohnya adalah dalam ilustrasi di atas Mamarasi melakukan selving, melayani sirkulasi bahan pustaka yang mestinya rutin dikerjakan sehari-hari adalah tidak akan mendapat nilai kredit point untuk prestasi karja harianya tersebut sebab dalam DUPAK untuk pustakawan pertama butir kegiatan tersebut tidak ada. Sebaliknya bagi Paparasi prestasi kerja harian untuk pelaksanaan kegiatan seperti memberikan tajuk subjek, mengklasifikasi bahan pustaka adalah butir kegiatan yang tidak akan dapat dihiting sebagai prestasi kerja harian karena dalam DUPAK untuk pustakawan pelaksana tidak ada butir kegiatan untuk hal ini. Hal ini tentu menjadi prustasi tersendiri bagi para pustakawan yang harus bertugas dilapangan. Maka apakah ini kesalahan dalam penyusunan konsep instrument DUPAK yang tidak peka terhadap peta kerja di lapangan ataukah lapangan yang tidak bisa mendesain penempatan personil. Sebagai bahan elaborasi ada baiknya bila tenggok petunjuk pelaksanaan jabatan fungsional dan angka kreditnya untuk profesi lain. Dosen atau guru misalnya Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala Badan Kepegawaian Nasional Nomor 61409/MPK/KP/99 Nomor 181 Tahun 1999 dari penjabaran petunjuk pelaksanaan ini hanya akan menghasilkan satu format DUPAK.  Maka dosen yang bekerja di manapun akan dapat  bekerja sesuai dengan fungsi profesionalnya dan dijamin prestasi kerjanya mendapat penilain kredit point. Tidak seperti pustakawan yang ada berbagi macam format DUPAK untuk tiap jenjang jabatan. Maka pertanyaan usil yang kemudian bisa dimunculkan adalah benarkah pustakawan itu jabatan fungsional atau struktural karena berjenjang dan berstruktur pekerjaannya. Ada kepangkatan tertentu hanya boleh mengerjakan pekerjaan tertentu. Padahal struktur dan jenjang yang dikonsepsikan dalam DUPAK itu adalah jenis butir kerja yang memang terangkum secara utuh dalam praktek-praktek profesi kepustakawan dilapangan. Seperti DUPAK dosen yang merangkum secara sederhana seluruh butir kegiatan praktek-praktek profesi kepengajaran. Yaitu secara garis besar adalah pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang kemudian dijabarkan dalam butir-butir kegiatan, tanpa  memberikan catuman kolom ”Pelaksana” sebagaimana DUPAK pustakawan. Dengan membandingkan instrumen penilaian prestasi kerja harian antara jabatan fungsional dosen dengan fungsional pustakawan,  kita akan mememukan bahwa instrumen bagi dosen kelihatan lebih sederhana. Kesederhanaan terlihat dari tidak ditambahkannya kolom Pelaksana, yaitu kolom yang digunakan untuk memilah pejabat fungsional yang boleh melakukan suatu butir kegiatan yang dicantumkan pada kolom sebelumnya. Desain instrumen ini tentunya lebih luwes dalam penerapannya di lapangan. Karena keadaan di lapangan tentunya sangat bervariasi antara satu institusi pendidikan dengan institusi yang lain. Maka dosen yang ditempatkan bekerja di manapun bisa memanfaatkan instrumen ini dengan maksimal.            Sedang pada instrumen penilaian untuk jabatan fungsional pustakawan, kita menemukan adanya kolom ”Pelaksana” pada kolom paling akhir dari Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Teknik Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya. Lihat pada cuplikan perbandingan kedua peraturan tersebut pada gambar di bawah ini:


Gambar 1. Rincian Kegiatan Dosen dan Angka Kreditnya Terdiri dari 5 kolomTanpa Ada kolom PELAKSANA

Gambar 2. Rincian Kegiatan Pustakawan Terampil dan Angka Kreditnya Terdiri dari 7 kolomAda kolom PELAKSANA (tanda panah)

Gambar 3. Rincian Kegiatan Pustakawan Ahli dan Angka Kreditnya Terdiri dari 7 kolom Ada kolom PELAKSANA (tanda panah)
Dari elaborasi ini tampaknya ada solusi sederhana yang dapat dipetik. Solusi ini diharapkan bisa membuat instrumen penilaian kinerja pustakawan menjadi lebih sederhana dalam menghasilkan DUPAK dan lebih luwes dalam menampung nilai dari prestasi kerja harian bagi para pustakawan di setiap lini beliau ditugaskan atau ditempatkan. Solusi ini berupa penghapusan kolom ”pelaksana” pada Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Teknik Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya, ini.
Kesimpulan
Pasca terbitnya UUPN No.43 tahun 2007, dunia perpustakaan mendapat angin segar. Yaitu pengakuan eksistensi peranan pustakawan dalam kehidupan berbangsa dalam bidang pendidikan pada khususnya. Mendorong tumbuhnya layanan perpustakaan di lembaga-lembaga pendidikan. Dampak lebih lanjut adalah dibutuhkannya tenaga-tenaga pustakawan yang akan mengelola perpustakaan ini. Dan mengingat kondisi lapangan yang akan terjadi adalah munculnya pustakawan yang bekerja secara mandiri di unit tugasnya itu. Akan muncul fenomena pustakawan ”single parent” yang lebih banyak lagi.             Disisi lain kita mendapati pengakuan  bahwa pustakawan adalah jabatan fungsional yang perlu untuk dilakukan pembinaan kariernya. Sementra ini telah ada instrumen untuk penilaian kinerja pustakawan; sebagaimana yang terdapat dalam Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Teknik Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya. Namun kita menemukan bahwa peraturan ini kurang responsif terhadap fenomena pustakawan ”single parent” tersebut. Untuk itu pasca terbitnya UUPN No. 43 tahun 2007 ini Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Petunjuk Teknik Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya, perlu untuk dikritisi lebih cermat lagi. Salah satu usulan yang bisa disampaikan disini adalah solusi untuk menghilangkan kolom ”Pelaksana”  pada peraturan tersebut. Hal ini dimaksudkan agar peraturan ini lebih responsif untuk menjadi instrumen penilaian kinerja pustakawan. Sehingga kemunculan fenomena pustakawan ”single parent” dapat diakomodasi kepentingan penilaian kinerjanya

Comments Off on MENYOAL TENTANG JABATAN FUNGSIONAL PUSTAKAWAN

Aug 18 2010

Salam Sejahtera

Published by under Uncategorized

Ini adalah blog sederhan. Semoga Anda dapat memdapat informasi yang bermanfaat.

One response so far