Bacalah tak Sekedar Kata

Abstract

Reading Activity is very important for human being. More over the information century today, human being is given information almost without interval. Repeat study is needed to old pattern, including reading. Reading is not only stop on verbal words to get the meaning from information which go to and from that. Because information can appear in manner of word language and aspect language. Both of them have the way of different expression. Therefore the reading will be different. Word language has the established grammatical pattern. While the aspect language has the design imagination that work with lines, area, colour, texture and also size and dimension. Taking just one of them will destroy or weaken the totality of human being absorpsion of in formation. Therefore the most important thing is that human being require to mater both of the languages, the language of word and aspect language.

Keyword : Reading, the language

TSUNAMI INFORMASI

Membaca  merupakan  aktivitas  manusia  yang  vital.  Terlebih  pada  tingkat  kebudayaan  dan  ilmu  pengetahuan  sekarang  ini,  yang  ditandai sebagai era informasi. Denyut kehidupan kian tak bercelah, melalui perkembangan  dan  penemuan baru dibidang  teknologi yang semakin  memiliki ciri cepat, efisien dan canggih. Serbuan pesan informasi bersliweran menerpa manusia tanpa kompromi.  Dan  saat  bangun  tidur  sampai  tertidur  lagi, manusia tak luput dari informasi. Bombardiran informasi yang dikemas dalam media cetak dan media elektronik membuat hiruk – pikuk suasana kehidupan. Dengan beragam tawaran informasi yang sarat akan pesan, ide, dan manusia seakan semakin sempit ruang gerak kehidupannya, karena hampir pada setiap gerak  pandang dan pendengaran tidak lepas dari sergapan kata dan citra. Suka atau tidak,  kenyataan  ini  adalah rutinitas di setiap tempat, setiap waktu dan setiap individu.  Informasi tak pandang bulu,  menerpa siapa saja, sedang apa saja, di mana saja  bak gelombang  tsunami. Sapuan informasi memiliki  daya  kejut dan daya pukau sedemikian hingga mampu menarik dan menyita perhatian manusia untuk mencernanya,  membaca apa maknanya.

Lautan informasi,  fenomena  ini menuntut strategi penyikapan yang baru suatu yang lain dan pola – pola  baku  selama  ini. Cara – cara  konvensional yang dikenal telah menemui  titik  ausnya,  karena  dianggap  kurang  responsif lagi menghadapi hal – hal baru. Diperlukan kaji – ulang, reposisi, reformasi atau bahkan terobosan baru yang melanda segala bidang kehidupan. Dalam gelora semangat ini pula maka kiranya lahirlah beragam konsep,  seperti  EQ (Emotional Quotient) melengkapi IQ (Intellectual Quotient), berpikir lateral, accelerated learning,  double brain power, manajemen qolbu, dan lain sebagainya. Semuanya menawarkan peningkatan kemampuan manusiawi manusia untuk menghadapi fenomena kehidupan. Mencerna informasi dan bertahan hidup serta meraih kejayaan. Manusia ingin lebih cerdas dan bijaksana dalam bersikap dengan informasi yang datang menghampirinya, dalam membaca informasi.  Sebab, belum pernah sebelumnya manusia dihadapkan pada banjir informasi yang sedemikian dahsyat, massal dan mashibnya, baik dari media cetak maupun elektronik. Dari media cetak saja sebagai gambaran, dikabarkan oleh John Naisbitt dalam Megatrend 2000 yang dilansir pada tahun 1990, bahwa di sebuah Newsroom Washington DC orang bisa membeli majalah, surat – kabar, dan buku dalam 100 bahasa yang berbeda. Di sana orang bisa mendapatkan Le Monde (Perancis), Corriere della Sera (Italia), Al Ahram (Arab), Polityka (Polandia), La Nacion (Argentina), juga De Telegraaf (Belanda), selain itu China Daily,  Pravda, Die Welt, African Business, West Africa, Nigerian News dan lainnya. Belum lagi dari ranah media elektronik yang telah sampai pada kematangan teknologi digitalnya. Stasiun – stasiun radio baru yang bermunculan di setiap kota,  televisi-televisi lokal pun banyak lahir memberi alternatif bagi televisi global dan nasional.  Ditambah ragam media penyimpan digital seperti disket, CD, VCD, dan DVD serta chips-chips kartu memori yang makin kecil tapi berdaya muat besar. Lalu Internet dan telepon seluler yang berfungsi tidak hanya suara tapi sudah mengarah pada citra dan suara dengan SMS, MMS dan WAP-nya.

Sekadar kilas balik, ketika manusia masih dalam kebudayaan nomaden dengan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berburu dan bertanam berpindah-pindah. Manusia sudah mulai membuat tanda-tanda atau simbol – simbol dengan menoreh atau memahat pada pohon dan batu. Ia dicerdaskan bahwa dengan membuat tanda pahatan dan torehan itu ternyata dapat memberikan informasi kepada manusia lain. Bahkan ia sendiri bisa mengingat informasi itu kembali bila melihatnya. Maka manusia mulai memproduksi informasi pada lempeng batu, kulit kayu dan yang lebih aman di dinding-dinding gua tempat tinggalnya. Demikianlah,  manusia  mulai membuat “ensiklopedi”nya membuat “buku pintar”-nya, manusia mulai berkomunikasi dengan tanda – tanda rupa yang bisa dipakai untuk mendidik dan mewariskan pengetahuannya ke generasi berikutnya. Pengetahuan menjadi bisa bergerak melintas ruang dan waktu. Seiring dengan makin berkembangnya pengetahuan maka media penyimpan informasi pun kian beragam dan menjadi lebih baik. Dari batu, lempeng tanah liat,  perkamen, daun lontar dan kulit binatang manusia terus menemukan penyempurnaan media informasinya. Salah satu yang mendasari penemuan kertas yang kita pakai sekarang ini adalah penemuan Mesir 2500 SM  yaitu bahan tulis papyrus. Papyrus dibuat dari sejenis rumput yang tumbuh sepanjang Sungai Nil. Dari papyrus berkembang istilah paper, papier, papiere, papiros yang merujuk pada kertas. Komposisi kimiawinya yang mendasari perkembangan kertas bagi kertas modern kini. Abad 1 masehi sejenis kertas ditemukan di Cina.  Namun karena ketertutupan  budayanya,  bangsa  Eropa  baru dapat membawa teknologi kertas ini pada tahun 1150-an, maka sejak itu Eropa mengenal kertas. Penulisan buku mulai  beralih dari  yang sebelumnya  menggunakan kulit binatang seperti biri-biri, domba, sapi dsb;  kemudian kertas awal ini walau masih mengunakan teknik penulisan tangan. Penulisan dengan tangan suatu buku akan membutuhkan waktu yang lama dalam pengerjaannya dari produknya pun terbatas jumlah yang dihasilkan. Tahun 1440 prototipe awal mesin cetak Gutenberg dikenalkan yang sangat membantu dalam penggandaan naskah. Mesin cetak ini semakin disempurnakan dan diduplikasi sepanjang perjalanan sejarahnya, maka persebaran media komunikasi makin meluas dan cepat. Hingga akhirnya budaya buku menjadi penyangga peradapan manusia yang utama sampai kini, Kertas mengantarkan manusia sampai kepada era ledakan informasi kini. Sekarang, sayup – sayup  telah terdengar budaya paperiess akhir dari kejayaan  kertas, dengan munculnya media rekam digital.

Apa yang terjadi,  ketika informasi menghampiri  manusia atau sebaliknya manusia menghampiri infomasi. Diskripsi berikut mungkin bisa sekadar memberi gambaran:  ketika  anda membaca tulisan ini, retina mata Anda, yang terdiri dari 12 juta sel saraf lebih, bereaksi pada cahaya dan menyampaikan pesan pada cabang – cabang saraf  yang  menyambungkan mata dengan saraf optik. Saraf optik menyambungkan impuls-impuls saraf itu ke otak. Sepuluh sampai 14 juta sel saraf pada otak Anda, disebut neuron, dirangsang oleh impuls-impuls yang datang. Terjadilah proses persepsi yang menakjubkan. Bagian luar neuron, dendrit, adalah penerima informasi. Soma mengolah informasi dan menggabungkannya. Axon kabel miniatur yang menyampaikan informasi dari alat indera ke otak, otak ke otot, atau dan neuron yang satu kepada yang lain. Di ujung axon terdapatlah serangkaian kenop (terminal knobs) yang melanjutkan informasi itu. Psikolog menyebut proses ini  komunikasi.  Prosesnya memang tidak berbeda dengan sistem telekomunikasi dengan terminal-terminal relay dan dilengkapi dengan komputer. Otak manusia sendiri adalah komputer yang mampu menyimpan 280 quintilion (280 ditambah 18 angka nol) bit informasi. (Hunt, dalam Rakhmat, 2002:4).

Fenomena bombadiran informasi, bisa dijabarkan sebagai peristiwa komuniakasi. Saat berkomunikasi manusia menerjemahkan gagasan ke dalam bentuk lambang, baik lambang verbal ataupun non-verbal. Kemudian manusia lain mengartikan lambang-lambang tersebut sesuai makna yang telah disepakati sebelumnya, atau dengan kata lain kerangka pemikiran sebelumnya. Proses ini bisa timbal-balik. Semakin kerangka pemikiran antara manusia satu dengan yang lain sama akan besar keberhasilan komunikasi. Dalam berkomunikasi manusia membutuhkan bahasa. Dengan bahasa manusia bersepakat tentang makna yang disampirkan pada lambang-lambang bahasa. Sejak zaman batu manusia telah mulai memproduksi lambang – lambang yang disepakati untuk mengkomunikasikan atau mencatat tentang suatu hal. Lambang yang mengabstrasikan atau mewakili objek atau peristiwa. Artinya ia mewakili objek atau peristiwa dalam benak manusia.

Bahasa menandai eksistensi manusia, dan di dalam pengertian demikian dapatlah dikatakan tentang kehidupan manusia ini: “AKU BERBAHASA, KARENA AKU HIDUP” (Samsuni, 1985:5). Bahasa menunjukkan bangsa demikian bunyi ungkapan. “Sebagian besar manusia menghabiskan waktunya dengan bahasa.  Para sastrawan menemukan jati dirinya lewat bahasa, Para hakim, jaksa, pengacara, dosen, wartawan, penulis, penyiar radio – televisi, dan perancang iklan memperoleh nafkahnya dari kemahiranya berbahasa. Bahasa meluber di tempat kita bekerja, di kantor, di bengkel, di toko atau di mal-mal.” Demikian Alex Sobur dalam Semiotika Komunikasi. Antropolog pun memiliki kesimpulan, bahwa manusia dan bahasa berkembang bersama-sama. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya menjadi homo sapiens juga mempengaruhi perkembangan bahasanya. Bahasa menjadi teman setia bagi perjalanan kebudayaan manusia. Merekamnya dalam artifak-artifak dan teks-teks sejarah. Di balik itu,  bahasa  pun dipengaruhi oleh kebudayaan manusia.

BAHASA KATA DAN BAHASA RUPA

Ihwal bahasa bisa dikategorikan dalam dua kelompok besar yaitu bahasa kata dan bahasa rupa (setidaknya untuk kesepakatan kita dalam pembahasan selanjutnya). Dengan bahasa kata kita lebih mengacu pada bahasa literer, bahasa yang hidup dalam teks-teks lembaran buku dan dokumen lain. Sedang bahasa rupa merujuk pada lambang, tanda, dan simbol serta gambar peristiwa atau kisah. Kedua bahasa ini dapat mengkomunikasikan informasi yang disublimasikan ke dalam dirinya, sehingga orang yang terterpa bisa membaca apa makna yang terkandung di dalamnya dengan catatan orang harus memiliki posisi awal telah tahu cara membaca. Artinya akan ada proses komunikasi antara sang penulis dan kreator dengan orang yang membacanya.

Bahasa kata atau literer menurut sejarahnya muncul kemudian setelah manusia menyempurnakan abstrasi simbol-simbol ucap. Ia lahir setelah bahasa menemukan alphabeta-nya, ketika latin menemukan a-b-c-nya, ketika Arab menemukan alif-ba-ta’-nya, dan ketika Jawa bertemu ha-na-ca-ra, ka-nya dsb. Sejak itu bahasa kata bertahta dalam istana literatur. Dibanggakan oleh para pendeta dan bangsawan serta para pujangga karena pada mulanya tulisan masih bersifat elitis. Dan kemudian banyak dipelajari oleh banyak orang menjadikan bahasa kata makin berkembang. Bahkan menjadi suatu hal yang vital dalam percaturan kebudayaan manusia modern sebagaimana dilansir Primadi Tabrani: Di puncak kejayaan kerajaan literatur psikologi modern sempat membanggakan diri bahwa manusia modern membedakan diri dengan manusia sebelumnya. Manusia modern berfikir dalam kesadaran, dengan logika, dan dengan bahasa kata. Ada semacam keangkuhan yang ditangkap oleh Primadi Tabrani akan kebanggaan yang berlebih dari para pemakai bahasa kata dengan kekayaan literaturnya. Memang kemunculan literatur telah sempat mengeser bahasa rupa yang lahir lebih awal, ia tersisih menjadi artifak-artifak budaya, hingga pada saatnya kajian semiotika menyadarkan manusia kembali akan arti pentingnya bahasa rupa.

Dengan bahasa kata manusia menemukan kematangan intetektualitas yang bersifat nalar logis. Membawa manusia untuk berpikir runtut menurut logika yang tersistematik. Bagaimana mempelajari pengenalan rangkaian huruf yang mewakili bunyi-bunyi ujar tertentu, setelah itu merangkai huruf dalam suku-suku kata, suku kata menjadi kata, kata dirangkai dalam kalimat, kalimat menjadi paragraf, paragraf menjadi wacana. Betapa semua itu urutan yang logis dan baku. Keteraturan inilah yang menjadikannya suatu yang eksak, suatu yang pasti. Sehingga orang tidak akan pernah sampai menjadi penulis sebelum mengenal dan menguasai huruf  pada masa-masa awalnya. Dengan membaca dan menulis manusia terbiasa berpikir logis, menurut pola aturan yang telah menjadi konvensi secara umum.

Dari kelebihan inilah maka ilmu-ilmu pengetahuan menyandarkan diri pada literatur untuk mengkomunikasikan temuan-temuannya. Lewat literatur kita menerima begitu banyak kekayaan ilmu pengetahuan manusia, dari zamannya Plato sampai kurang mutakhir. Beragam laporan ilmiah, ribuan kitab undang-undang, peraturan-peraturan hukum, protokol-protokol kerjasama, deklarasi-deklarasi, jurnal-jurnal dan kabar berita sehari-hari, akta jual beli, sampai resep dokter, bahkan ijazah Anda adalah tempat di mana huruf diterakan dari kata disusun menjadi kalimat yang memberi informasi.

Dalam bahasa kata,  kita manusia, meramu kata dan kalimat untuk menjadi wacana yang mengkomunikasikan kebanyakan pemikiran dan pengetahuan kita kepada orang lain dan menerima secara timbal balik hidangan pikiran (food for thought).

Penguasaan bahasa kata merupakan prasyarat memasuki khazanah ilmu pengetahuan yang tersimpan dalam literatur-literatur di perpustakaan, Dengan bahasa kata, orang seakan memiliki paspor untuk pergi menuju tempat ilmu – ilmu pengetahuan berada di manapun. Bebas mengaksesnya tanpa hambatan, tanpa takut tidak ada mendapatkan karena halangan tidak bermakna tidak dapat membaca, sebab begitu bisa membaca pintu-pintu khazanah ilmu telah terbuka, orang tinggal berupaya melangkah memasukinya dan menikmati apa yang tersaji di dalamnya.

Maka tak heran bila angka melek huruf (literacy) menjadi salah satu indikator untuk mengukur tingkat kemajuan suatu bangsa. Dan spirit ini muncullah proyek-proyek atau program pemberantasan buta huruf dengan kejar paket-kejar paketnya, pernah pada masanya ketika orang-orang tua dan dewasa di luar usia sekolah belajar mengenal huruf (meski pun mungkin karena terpaksa), walau sudah nenek-nenek atau kakek-kakek bagi mereka ini yang memperbesar rasio angka buta huruf harus diajar belajar membaca huruf  latin, begitulah garis kebijaksanaan penguasa waktu itu. Kita harus menuju kepada kemajuan bangsa, demikian kredonya. Maka indeks angka buta huruf harus diperkecil. Sihir angka-angka.

Keterampilan baca tulis, dan berhitung adalah pengetahuan paling dasar yang pertama diajarkan di sekolah-sekolah. Anak-anak mengawali pendidikan sekolah dasarnya dengan pelajaran baca-tulis ini, dengan buku – buku yang mengenalkan huruf-huruf, dengan tulisan yang besar-besar dan masih sedikit teks. Seiring dengan itu ia harus menyalin di buku tulisnya. Keterampilan ini makin bertambah. Akhirnya ia telah menguasai kata (penulisan dan pengucapan) dan ia merangkamnya dalam kalimat,  kemudian semakin tinggi kelasnya ia akan makin banyak berhubungan dengan buku yang kaya akan teks-teks bacaan mulailah ia berinteraksi dengan beragam ilmu pengetahuan. Ketika sampai menyelesaian tingkat strata satunya ia telah bisa menuliskan karya ilmiah dalam bentuk skripsi. Tak terhitung waktu yang dihabiskan untuk berinteraksi dengan bahasa kata tulis ini, membuat terkondisikan pola pikirnya dan menjadi panduan atas nealitas sosial dan natural yang dihadapi.

Bahasa rupa, berperan lebih awal dari  pada bahasa kata. Sejak masa nomaden dan tinggal di gua-gua, tanda-tanda dan gambar di dinding-dinding gua dan lempeng batu telah menjadi alat komunikasi manusia. Tanda itu berfungsi untuk menjabarkan gagasan atau menginformasikan sesuatu di antara mereka. Seakan paralel dengan perkembangan pertumbuhan individual manusia. Seorang balita telah mulai membuat coretan-coretan dan gambar – gambar tak beraturan sesuai kehendaknya di mana saja, ketika ia mendapat alat tulis; sebelum akhirnya ia berhasil membuat huruf dan gambar bermakna. Bahasa rupalah yang lebih dulu mengabarkan informasi akan eksistensi budaya nenek moyang kita. Lewat artifak-artifak budaya, menjadi teman pertama merekam kebudayaan manusia.

Laseau mengungkapkan sepanjang sejarah, dampak penglihatan pada pikiran adalah besar sejak manusia menghuni gua, gambar merupakan ‘hablur’ peristiwa dan gagasan di luar diri manusia dan menciptakan sejarah. Berbagai hal ‘dunia kedua’ ini, yang diciptakan oleh manusia lewat khayalannya sangat menentukan evolusi pikiran. Manusia mampu membedakan masa kini dengan masa yang dibayangkannya, yaitu masa mendatang. Lewat gambar, dunia batin, dunia mitologi yang mengangan-angan dan utopia yang mengebu menjadi dekat dan nyata. Segala nilai dari  kebudayaan dapat dicakup oleh sebuah gambar – gambar yang tidak terkatakan dapat disampaikan kepada orang lain. Sejak dulu kala gambar sebagai ungkapan pikiran menjadi milik masyarakat. Setelah konsep tertuang menjadi gambar, misalnya tentang gagasan manusia dapat terbang, gagasan itu terbuka untuk ditafsirkan oleh orang lain berulang kali hingga akhirnya pesawat terbang ditemukan.

Manusia menggunakan tanda dan lambang lama sebelum menggunakan bahasa tulis. Bahasa tulis yang permulaan, misalnya hieroglif Mesir, merupakan perangkat lambang yang sangat khusus yang diturunkan dari gambar (Laseau. 1986:5).

Perkembangan geometri sebagai gabungan matematika dan diagram memungkinkan orang berpikir tentang bangunan dan pengabstrakan kenyataan. Manusia menggunakan gambar untuk menjangkau dunia yang tak dikenalnya. Peta yang disusun kembali dari catatan dan lanskap para penjelajah. Menyulut khayalan dan merangsang penemuan baru tentang dunia dan alam semesta. Bahasa rupa berperan besar dalam membuka wilayah imaji kreatif manusia.

Sayang keberadaannya agak terabaikan oleh kehadiran bahasa tulis, yang begitu kuat pengaruhnya dalam menuntun logika berpikir manusia. Untunglah kajian semiotika menyadarkan kembali akan potensi bahasa rupa dalam cara kita berpikir dan berkomunikasi. Dalam ornamen sebagai sebuah bahasa, rupa pola pikir manusia bisa diungkapkan, sebagaimana dikabarkan Guntur (2004) dalam bukunya Ornamen: Sebuah Pengantar; Ornamen digunakan masyarakat sebagai penanda dan simbol tertentu. Ornamen juga digunakan sebagai representasi yang berkaitan dengan ritual keagamaan. Ornamen berfungsi sebagai model berfikir, bertindak dan berperilaku. Ornamen di satu kajian budaya tertentu menunjukkan keserupaan dan keseragaman sebagai konsekuensi pemahaman dan kesepakatan bersama di antara anggota masyarakat.

Kini perkembangan menunjukkan makin berperannya komunikasi dengan bahasa rupa. Fenomena paling nyata adalah kehadiran televisi, tempat bertahtanya komunikasi bahasa rupa. Beragam informasi dan peristiwa, serta hiburan menjejali keberadaannya. Dengan televisi kita menjelajahi langit, samudra dan tempat-tempat di bumi. Kita bergantung pada penjelasan dan dorongan oleh gambar, berita tsunami Banda Aceh, misalnya, dan derita yang ditimbulkan telah mampu menggerakkan simpati dunia dan memberikan sumbangan bantuan. Kartun menjadi alat yang sangat canggih dalam menyuling dan mencerminkan kebudayaan kita. Revolusi yang paling besar adalah ketika bahasa rupa beralih dari lingkungan para ahli ke masyarakat luas.

Diadopsinya teknologi oleh masyarakat untuk menghimpun, menyimpan dan memanipulasi berbagai model kenyataan, seperti komputer membuka harapan yang mengagumkan. Peta satelit, permainan video, dan gambar digital yang dibangun oleh komputer dengan perlengkapannya yang makin mampat (compact) dan portable telah membuka zaman baru dalam komunikasi bahasa rupa. Lebih tegas, jika manusia hendak mewujudkan kemampuan teknologi, ia harus belajar berpikir dalam bahasa rupa. Inilah kesadaran baru yang perlu mendapat perhatian serius dalam menghadapi era informasi ini

MEMBACA

Meski bahasa kata dan bahasa rupa mempunyai pengertian yang sama, dalam arti sebagai alat komunikasi pesan, dalam kadar dan tingkatnya masing – masing. Namun karena cara pembentukannya berbeda, maka, konsekuensi yang timbul adalah cara pembacaan berlainan pula.

Untuk keperluan pembacaan ini, dari khazanah kepustakaan ilmu-ilmu pengetahuan kita dapat mengandalkan kajian linguistik dan semiotika. Kajian linguistik memiliki signifikansi yang besar untuk membantu melakukan pembacaan literatur atau teks-teks tertulis. Singkatnya memahami bahasa kata. Sedangkan semiotika akan sangat membantu untuk memahami lambang – lambang, simbol,  ikon dan tanda-tanda gambar grafis lain yang dihasilkan oleh bahasa rupa.

Tentu kita tidak harus sampai menjadi ahli linguistik, yang repot mencari jejak asal-usul kata, untuk dapat berkomunikasi dengan teks-teks literatur. Cukuplah kiranya kita berbekal pengertian tentang gramatika dan kekayaan kosa kata serta tak lupa diawal mengerti tentang huruf  dan penulisannya sesuai kondisi bahasa yang hendak dibaca. Kondisinya adalah tiap bahasa mempunyai perbedaan sedikitnya dalam ketiga hal tersebut. Kita menemukan struktur gramatikal bahasa Inggris menurut kaidah MD (Menerangkan – Diterangkan). Dalam bahasa Inggris, yang menerangkan (M) terletak didepan yang diterangkan (D), sedang dalam bahasa Indonesia berkaidah sebaliknya DM. Bahasa Inggris menuliskan: “Remaja muslim” dengan “Moslem Youth” bukannya “Youth Moslem”, sementara kita orang Indonesia menyebutkan “buku” untuk mengacu pada benda yang terbuat dari lembaran – lembaran kertas yang dijilid, orang Inggris menyebutnya “book”, Perancis “livre”, Spanyol “libro” sama dengan Italia, Jerman “buch”, Belanda “boek”, sedangkan Jepang menyebutnya “hon”. Untungnya ada huruf  latin yang bisa dikenali dan diterima banyak bahasa. Meski ada bahasa yang punya huruf sendiri pula.

Dengan mengenali huruf, pembentuk suku kata, memahami gramatikal, susunan tata bahasa dan memiliki kekayaan kosa kata dalam suatu bahasa, dijamin kita akan lancar untuk dapat berselancar membaca dalam tautan teks – teks bahasa kata. Melakukan komunikasi dengan kekayaan ilmu pengetahuan yang disimpan dalam buku-buku ilmiah atau sejarah serta sastra.

Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Dengan tanda-tanda, kita mencoba mencari keteraturan di tengah – tengah dunia yang centang-perenang, setidaknya agar kita sedikit punya pegangan. Semiotika mengajarkan kepada kita bagaimana menguraikan aturan – aturan tanda ini untuk kemudian membawanya pada sebuah kesadaran kita. Semiotika menjelaskan jalinan tanda secara sistematik; menjelaskan esensi, ciri-ciri dan bentuk suatu tanda, serta proses signifikasi yang menyertainya.

Alex Sobur mengelompokkan kajian semiotika dalam tiga poros. Poros horizontal menyajikan tiga jenis penyelidikan semiotika (murni, deskriptif dan terapan); poros vertikal menyajikan tiga tahapan hubungan semiotik (sintaktik, semantik, pragmatik) dan poros yang menyajikan tiga kategori sarana informasi (signals, signs dan symbols) (Alex Sobur, 2003: 19).

Simbol, lambang, kode, ikon, logo, tanda, dan sebagainya, merupakan produk imaji rupa atau singkatnya bahasa rupa, sangat mungkin untuk dibacakan informasi maknanya dengan perspektif semiotika, karena simbol atau lambang adalah semacam tanda, lukisan, perkataan, lencana dan sebagainya yang menyatakan suatu hal atau mengandung maksud tertentu. Misal, warna putih merupakan lambang kesucian, padi lambang kemakmuran. Simbol melibatkan tiga unsur: simbol itu, rujukan, dan hubungan antara simbol dengan rujukan. Ketiga hal ini yang  membangun makna sebuah simbol.

Dalam pandangan semiotika, ragam bahasa rupa ini semua bisa “berbicara” mengomunikasikan diri kepada kita dan kita bisa membacanya. Maka dalam membaca ketiga unsur itu perlu diperhatikan. Kalau khazanah bahasa kata, ibarat kita akan pergi ke suatu tempat, terlebih dahulu kita diajak menelusuri, menapaki setiap ruas jalan ke tempat tujuan, maka dalam bahasa rupa kita langsung sampai di tempat itu. Orang menyebutnya instant, bahasa instant, kita langsung berhadapan dengan ekspresi pesan. Kita membongkar bangunan tanda atau simbol itu ke dalam unsur pembentuknya.

Primadi Tabrani, dalam penelitiannya tentang relief candi Borobudur dan Wayang Beber, telah berhasil membaca rujukan filosofi yang melingkupi. Relief dan wayang lahir dari filosofi timur, sedang gambar-gambar yang menjadi mainstrem sekarang adalah bersandar filosofi barat. Dari sini Primadi rnemunculkan konsep RWD (Ruang-Waktu-Datar) dan NPM (Naturalis Perspektif Moment Opname). Dalam konsep RWD yang dipakai untuk membaca relief candi Borobudur dan bahasa rupa timur lainnya, unsur waktu dibiarkan sesuai esensinya yaitu mengalir atau bergerak, dengan ini ia bisa menggambar dalam aneka tempat, arah dan waktu, berupa sekuen (sequence, beberapa adegan) bukan still picture seperti dalam NPM, di mana gambar bercerita untuk satu adegan dalam satu tempat dan satu waktu. Selain itu pembacaan juga harus memperhatikan wimba (citra) yaitu gambar apa yang dicitrakan, cara wimba yaitu bagaimana citra ini digambar. Bila detail berarti diam bila samar putus – putus artinya bergerak. Gestur bisa digambarkan; dan tata ungkap (atau grammernya), kalau citra digambar paling besar dari obyek lain dapat dimaknai ia adalah fokusnya.

Di samping itu ada istilah pradaksina yaitu cara pambacaan dari kiri ke kanan atau bisa dari bawah ke atas, untuk menggambar hal-hal yang dianggap profan. Sebaliknya sistem prasawya untuk  menggambar yang bersifat keduniawian.

Dengan konsepsi-konsepsi di atas, cara pembacaan bahasa rupa Barat yang bersifat “moment opname”, yaitu membatasi adegan dalam satu ruang dan satu waktu tertentu, akan gagal bila dipakai untuk membaca gambar dalam Damar kurung, wayang beber, lukisan kaca, relief candi atau lukisan Kamasan. Tentu akan ada kebingungan dan bila dipaksakan juga akan menimbulkan salah tafsir makna (Soemardjo, 2002 : 287). Hal ini juga menunjukan bahwa bahasa rupa tidak seuniversal yang kita banyangkan. Ia juga dipengaruhi oleh filosofi di mana bahasa itu dilahirkan.

SINERGI

Tiada sesuatupu yang sempurna di dunia ini. Begitupun kedua bahasa yang disebutkan di atas. Kata tak dapat mengungkapkan kehakikian fisik dari realitas totalnya. Kata pun tak mampu mengungkapkan suatu parameter khusus (essential quality) yang mengandung kebenaran, nyata atau hakiki. Tak ada yang setara dunia nyata. Tuhan memberi peringatan kepada kita, andai seluruh pohon di bumi dan air di laut jadi tintanya takkan sanggup menuliskan rahasia semesta sampai pun air laut  kering dan pohon-pohon habis. Demikianpun tulisan hanyalah alat pencatat yang tidak sempurna belaka. Ketidaksempurnaan tulisan itu ialah karena tidak semua aspek bahasa dapat dinyatakan dengan tulisan biarpun ada tanda-tanda bacaan, umpamanya tanda tanya, tanda seru, dan kombinasi dari pada keduanya, yang bisa menggantikan beberapa aspek-aspek itu. Tekanan, nada dari lagu kalimat sering tidak dinyatakan di dalam kalimat (Samsuri, 1986 : 20).

Bahasa rupa memiliki derajat distorsi yang kecil, dalam upayanya mengkomunikasikan sesuatu. Kita akan menemukan kebingungan yang lebih besar ketika diberi penjelasan verbal untuk menemukan alamat di suatu kota, bila dibandingkan dengan penjelasan sebuah peta. Untuk itu, orang membuat katalog warna dengan guntingan kertas warna yang sesuai untuk memandu menjelaskan warna yang dimaksud, katalog produk dilengkapi potret barang yang ditawarkan. Kini program bahasa komputer Basic telah dibuat dalam Visual Basic (VB) yang lebih memudahkan dalam membuat suatu program aplikasi komputer. Anda akan lebih enak menulis dengan MS Words yang WYSWYG (What You See is What You Get) dibandingkan Wordstar yang harus main kontrol KB mengapit suatu kata untuk membuatnya cetak tebal.

Tentu tidak relevan, mempertentangkan keduanya; kata dan rupa. Pertentangan hanya akan membawa semangat meniadakan. Sebab perbedaan hanya penting untuk pengkategorian, mengklasifikasi dan mengenal ciri-ciri sesuatu. Setelah mengenal cirinya kita dapat melakukan perlakuan yang sesuai dengannya. Bahasa rupa dan kata memiliki ciri khasnya masing-masing. Memanfaatkan potensi keduanya adalah sikap yang bijak untuk membangun totalitas komunikasi yang efektif.

Bahasa kata yang verbal lebih merangsang pengaktifan sensori otak kiri yang logis, nalar, rasional. Sementara belahan otak kanan yang intuitif, imajinatif dan kreatif olah rasa akan mudah distimuli oleh bahasa rupa. Namun, bukankah kita hidup dengan keduanya ya otak kiri dan kanan, karena otak kita adalah keseluruhannya. Totalitas otak kita tentu tak akan rela bila hanya mengeksplorasi sebagian saja, sementara yang sebagian lagi tak tergarap akan menjadi potensi yang tidur. Membuat sinergi keduanya adalah hikmahnya.

Sebagaimana disarankan Dave Meler dengan metode pendekatan SAVI (Somatis, Auditori, Visual, dan Intelektual) dalam belajar untuk memungkinkan perolehan hasil yang maksimal, yaitu gabungan dari olah fisik dan aktivitas intelektual ditambah pengaktifan semua indera kita dalam memahami sesuatu. Dengan begitu, potensi otak kita yang 100 milyar bit informasi setara dengan 500 ensiklopedi. Dalam berpikir otak mempunyai kecepatan lebih dari 540 km per jam. Koneksitas sambungan lebih dari 100 triliun dan rata-rata mampu melakukan 4000 pemikiran setiap 24 jam (Scott, 2002:xix), akan memiliki daya dukung maksimal atas berbagai aktivitas kita sehari-hari. Untuk itu, perpustakaan mendiversifikasi sumber informasi. Melengkapi diri dengan koleksi non-book material, yang dihimpun dalam rumpun koleksi audio-visual. Maka apakah anda akan berhenti pada kata?

Daftar Pustaka

Anderson, Wallace L & Stageberg, Norman C.

1965.     Introductory Readings on Language. New York: Holt, Rinehart and Winston.

Sutistyo Basuki,

1993.     Pengantar  Ilmu Perpustakaan.  Jakarta:  Garamedia Pustaka           Utama.

Guntur

2004.     Ornamen Sebuah Pengantar. Surakarta:  STSI  Press Surakarta.

Laseau. Paul.

1986.     Berpikir Gambar Bagi Arsitek dan Perancang. Bandung: Penerbit ITS.

Dave Meier,

2002.     The  Accelerated  Learning  Handbook:  panduan kreatif dan efektif merencang program pendididikan dan pelatihan. Bandung: Kaifa.

Naisbitt, John & Aburdene, Patricia.

1990      Me gatrends 2000:  sepuluh arah baru untuk tahun 1990-an. Jakarta:  Sinarupa Aksara.

JalaLuddin Rakmat,

2002      Psikologi  Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Samsuri

1985    Analisis Bahasa.  Jakarta:  Erlangga.

Alex  Sobur,

2003    Semiotika  Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Jean Marie Stine,

2002      Double Your Brain Power: meningkatkan daya ingat anda dengan menggunakan seluruh otak anda. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Jakob Sumardjo,

2002      Arkeologi Budaya Indonesia: pelacakan hermeneutis-historis terhadap artefak – artefak  kebudayaan  Indonesia. Yogyakarta: Qalam.

Primadi Tabrani,

2004      Bahasarupa:  kumpulan  tulisan koleksi Soengeng Tokio M. Surakarta:  STSI  Surakarta.

Scoot Thorpe,

2002.     Berpikir Cara  Einstein (cara-cara sederhanan untuk melonggar aturan serta menemukan kejeniusan anda yang tersembunyi). Batam Centre: Interaksara.

Soegeng Toekio M,

1997      Gatrarupa:  karya ilmiah. Surakarta: STSI Surakarta.

Soegeng Toekio M,

1997      Pengantar Semiotika dan keindahan. Surakarta : STSI Surakarta.

Soegeng Toekio M,

2003      Bahasarupa dalam Anggitan Pariwara. Surakarta: Artha-28.

Wucius Wong,

1986      Beberapa Azas Merancang  Dwimatra. Bandung: Penerbit ITB.